Husaimi Hamidi : Kita Bukan Pewaris Tapi Perintis

  • Kisah Perjuangan H. Husaimi Hamidi,SE.MH


RIAUCEMERLANG.com|    PEKANBARU- Sosok Putra Asli Riau kelahiran Pujud Kabupaten Rokan Hilir ini merupakan sosok yang sangat inspiratif, pekerja keras, tangguh , mau mendengar dan gemar berbagi. Bungsu dari 8 bersaudara ini juga memiliki kepemimpinan yang baik sehingga tidak heran jika banyak organisasi yang menitipkan amanah kepada beliau , salah satunya beliau diamanahkan menjadi Ketua Umum Persatuan Guru Swasta Riau beberapa waktu lalu.


Dibalik sosoknya yang tegas dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, Anggota DPRD Riau Dapil Rokan Hilir, Husaimi Hamidi, ternyata ada perjuangan panjang yang dia tempuh dulunya.


Sosok Husaimi Hamidi saat ini mulai dikenal karena tagline 'Kita Perintis, Bukan Pewaris', yang saat ini banyak bertebaran di berbagai daerah di Riau.


Husaimi Hamidi kecil harus merantau ke Pekanbaru pada tahun 1985 untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA, keberangkatannya ke Pekanbaru didoakan oleh sanak saudaranya.


Putra dari pasangan Jolih dan Rokhiah ini sebenarnya ragu untuk berangkat ke Pekanbaru, tapi berkat keluarga yang terus meyakinkan dia, Husaimi Hamidi akhirnya memutuskan untuk memaksimalkan kesempatan ini.


Keterbatasan akses transportasi membuat Ketua Fraksi Gabungan DPRD Riau ini harus menempuh perjalanan selama dua hari, karena waktu itu jalan dari kampungnya, Pujud, ke Pekanbaru harus menyeberangi sungai.


Sebelum berangkat, Husaimi dan beberapa rekannya yang juga ingin menempuh pendidikan ke Pekanbaru diadzankan oleh orang satu kampung, karena dia baru akan kembali ke kampung ketika hari raya idul fitri.


Husaimi akhirnya masuk ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) dan diantar oleh abang sepupunya di Pekanbaru, dan besoknya dia harus pergi sendiri. Sehingga, dia harus mencatat setiap rute perjalanan.


"Kami kakak beradik ini dididik sangat keras oleh orang tua, karena kita bukan orang kaya, tapi kesusahan itu yang ternyata bisa bikin saya berhasil. Diantara teman-teman yang sama ke Pekanbaru, saya yang paling susah hidupnya, saya anak yatim sejak usia 6 tahun," ujarnya.


Biaya pendidikannya di Pekanbaru, sambungnya, ditanggung oleh ibu dan abang-abangnya, mengingat Husaimi adalah anak bungsu. Sebagai konsekuensinya, setiap kali pulang kampung dia ikut membantu pekerjaan di kebun, yang merupakan warisan ayahnya sebelum meninggal.


Uang inilah yang dipakai Husaimi untuk membeli berbagai keperluan selama di Pekanbaru. Setidaknya, keluarga di kampung tak perlu mengirim uang selama dua bulan kedepan.


Setelah tamat dari SMEA, Husaimi sebenarnya memiliki keinginan untuk merantau ke Batam, namun lagi-lagi keluarga memberikan kesempatan untuk dia melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau.


"Ibu saya cuma tamat SR, tapi beliau sangat peduli sama pendidikan saya, saya sudah bilang kalau saya mau kerja. Tapi keluarga bilang, kalau saya mau lanjut sekolah, keluarga siap mendukung," tuturnya.


Akhirnya, Husaimi kembali ke Pekanbaru untuk berkuliah dengan dua syarat, yaitu tidak menikah sebelum tamat dan tidak merokok selama kuliah. Untuk syarat yang kedua, dia diberi sedikit toleransi.


Husaimi akhirnya berhasil menamatkan kuliahnya, dan langsung diterima kerja di salah satu kantor akuntansi di Pekanbaru, yakni Hardi, Ak, sebagai staf editor.


Husaimi sebenarnya berkesempatan kerja di RAPP, namun saat mendengar keluhan teman-temannya disana tentang tuntutan kerja, Husaimi akhirnya mengurungkan niatnya dan fokus dengan karir sebagai akuntan.


"Sambil bekerja, saya menyempatkan diri juga untuk melanjutkan pendidikan di S2 Fakultas Hukum Unri, saya selesaikan dalam jangka waktu 3 semester," tambahnya.


Pernah ingin Jadi ASN

Sama seperti anak Pujud lainnya, Husaimi juga memiliki keinginan untuk menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), dan dia kemudian menceritakan ini kepada Gubernur Riau kala itu, Saleh Djasit, yang merupakan orang satu kampungnya.


Husaimi masih ingat bagaimana dia menghadap ke Saleh sebanyak tiga kali, bahkan dia sempat shalat subuh di kediaman gubernur agar bisa berjumpa dengan Saleh sebelum ikut test PNS ke Siak.


"Kata beliau, saya tidak usah jadi PNS, karena saya dibilang akan jadi orang hebat di Pekanbaru, dan menjadi PNS akan menghambat saya untuk menjadi hebat itu," tuturnya.


Saat itu, Husaimi belum mengerti dengan yang dimaksud oleh Saleh, namun dia tetap menjalankan kegiatan seperti biasa, dan semakin aktif berorganisasi, salah satunya di Partai PPP yang sudah dia ikuti sejak tahun 1989.


"Saya belum pernah merasakan partai lain, saya betul-betul aktif itu tahun 2006, dan tahun 2009 diberi amanah sebagai Wakil Bendahara, Bendaharanya Almarhum Pak Azis Zaenal," katanya.


Husaimi kemudian mencoba peruntungan di Pemilu 2009, dan kalah suara dari Rusli Effendi sekitar 1300an suara. Pun begitu, dia tetap aktif sebagai pengurus partai.


Meski aktif di partai, Husaimi tetap melanjutkan karirnya sebagai seorang akuntan hingga akhirnya berhasil mendirikan kantor akuntan sendiri, sembari mempersiapkan diri untuk Pemilu 2014.


"Alhamdulillah 2014 dicalonkan lagi, dapat nomor urut 1. Waktu itu, Dapil sudah pecah, tidak Rohul-Rohil lagi, tapi Rohil saja. Kalang kabut juga saya karena tim sudah ada di Rohul, tapi akhirnya saya dipercaya oleh masyarakat Rohil untuk duduk sebagai Anggota DPRD Riau," tuturnya.


Saat terpilih menjadi Anggota DPRD Riau inilah, Husaimi baru menyadari apa yang dimaksud oleh Saleh Djasit sebelumnya. Dan benar saja, ketika namanya diputuskan dalam pleno KPU, Husaimi langsung dihubungi oleh Saleh Djasit.


"Saya tak lapor ke Pak Saleh pas nyaleg, saya takut dianggap saya minta bantuan, saya ini nyaleg modal sendiri, dibantu sama keponakan sepupu Rp 5 juta. Pak Saleh tahunya malah dari koran pas sudah terpilih," terangnya.

Haramkan Politik Uang

Husaimi memiliki cita-cita bahwa kedepannya masyarakat bisa memilih wakil rakyatnya sesuai dengan kualitas, bukan karena diberi uang. Makanya, sampai hari ini dia mengharamkan memakai 'politik uang'.


Dia juga sudah menyampaikan ini kepada kader PPP saat sekolah politik di Makassar, bahwa uang bukan segala-galanya dalam politik. Dan investasi politik merupakan hal yang jauh lebih kuat daripada uang.


"Saya sebelum menjadi anggota dewan sudah sering berkunjung ke daerah, orang sakit sudah saya urus, orang pesta saya hadir. Itu semua memang karakter saya, jadi tidak dibuat-buat, dan itu saya lakukan bertahun-tahun, bukan dua tiga bulan sebelum pemilihan," katanya seperti yang dilansir riaumakmur.com


Kemudian, setiap jumat sabtu dan minggu, Husaimi juga berkeliling di Rokan Hilir untuk bertemu masyarakat. Dia mengakui pertemuan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit pula.


Tak hanya itu, saat berkampanye di tahun 2014 lalu, Husaimi membuka usaha papan bunga dan juga ada studio radio dalam kamarnya di kampung, yang jangkauannya sampai ke Duri.


Usaha papan bunga dan radio ini diberi nama 'Hamidi', sehingga banyak orang yang mulai akrab dengan Hamidi. Ini merupakan strategi dia memperkenalkan diri ke masyarakat.


"Itu cost politik, kalau untuk biaya seperti itu saya mau, tapi kalau kasih uang untuk pilih saya, saya tidak mau itu. Saya mau menjadi contoh untuk politisi-politisi yang masih muda, bahwa investasi politik jauh lebih penting daripada bagi-bagi duit," ujarnya.


"Saya sering sampaikan di kampus-kampus, jangan jadikan kesusahan sebagai momok untuk tidak maju, gimana kita mau maju kalau bermimpi saja tak mampu," tutupnya.


Ingin Maju DPR RI

Husaimi Hamidi saat ini memutuskan untuk maju ke DPR RI dari Dapil Riau 1, dan sudah melakukan silaturahmi ke berbagai tokoh, salah satunya Saleh Djasit.


Kedatangan Husaimi Hamidi ke kediaman Saleh Djasit yang merupakan Mantan Gubernur Riau ini, adalah untuk meminta doa dan restu keputusan politiknya untuk naik kelas ke DPR RI.


Husaimi Hamidi dan Saleh Djasit sendiri sama-sama berasal dari Pujud, salah satu daerah di Kabupaten Rokan Hilir.


Kepada wartawan, Husaimi Hamidi mengatakan, bahwa dirinya menerima banyak sekali nasihat dan pituah dari Mantan Bupati Kampar tersebut.


Yang pada intinya, jelas Anggota DPRD Riau ini, Saleh Djasit mengapresiasi perjuangan politik Husaimi Hamidi untuk masyarakat Rokan Hilir selama ini.


"Ternyata, perjuangan saya dalam mengembalikan hak Riau di pajak air permukaan PLTA Koto Panjang, perjuangan meminta Dana Bagi Hasil (DBH) CPO, dan perjuangan lainnya dipantau oleh beliau, saya tak menyangka juga," kata Husaimi Hamidi yang merupakan Bacaleg DPR RI nomor urut 4 ini.


Sebagai sesama anak Pujud, Saleh Djasit mendoakan dan siap mendukung Husaimi Hamidi untuk berkiprah di parlemen nasional.


"Pas jumpa tadi saya juga bilang ke Pak Saleh Djasit, bahwa saya terinspirasi dari beliau, saya ingin jadi anak Pujud setelah Pak Saleh Djasit yang bisa jadi Anggota DPR RI," tambahnya.


Untuk itu, Saleh Djasit meminta kepada masyarakat Riau, khususnya yang berasal dari Rokan untuk mendukung Husaimi Hamidi menuju DPR RI.


"Insya Allah, saya akan jalankan semua nasihat beliau, karena beliau juga cerita pengalaman dia bagaimana menjemput APBN untuk pembangunan di Riau," tutupnya.***



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama